Process Equipment Design

Buku Tentang Desain Alat Perancangan Proses
klik untuk mendownload

Aksi Ganda Terapi Kanker

Para ilmuwan di Taiwan telah mendemonstrasikan suatu pendekatan yang lebih efektif untuk menyembuhkan kanker dengan menggunakan nanopartikel multifungsi. Beberapa partikel tersebut secara simultan menyerang tumor dengan kemoterapi dan terapi photothermal sama serta memungkinkan posisi mereka dan ukuranya untuk dipastikan.
Sementara nanopartikel metal telah ditunjukkan untuk membunuk sel tumor saat disinari dengan sinar dari laser, titik sinar laser yang ukurannya terbatas dapat berarti bahwa beberapa sel yang bersifat kanker dapat terlewatkan. Mengkombinasikan kemoterapi dengan phototerapi dapat menjadi pendekatan yang menjanjikan untuk mengatasi kerugian ini. Sekaranga, Chen-Sheng Yeh pada National Cheng Kung University, Tainan, dan para koleganya telah membuat nanopartikel yang mengantarkan obat antikanker Taxol dan juga berisi emas bagi phototerapi. Beberapa nanopartikel yang mengandung Taxol (paclitaxel) bermuatan poly(lactic-co-asam glycolic) (PLGA) dikonjugasikan dengan nanopartikel besi oksida dan titik-titik kuantum yang memungkinkan pencitraan resonansi optikal dan magnetis nanopartikel in vivo. Nanopartikel dilapisi dengan nanorods emas yang menyerap dekat sinar infra merah dan mengubahnya menjadi panas guna meningkatkan phototerapi dan menghancurkan nanopartikel PLGA untuk melepaskan obat antikanker kapsul. ‘Nanopartikel polymeric multifungsi ini secara simultan menyediakan pendeteksian, diagnosa, dan terapi pada nanopartikel tunggal untuk menigkatkan penyembuhan terapis,’ kata Yeh. Tikus yang disembuhkan dengan kemoterapi dan pengjancuran photothermal melalui nanopartikel tetap hidup setelah dua bulan dan tumor mereka baik menurun sepenuhnya atau menunjukkan tidak adanya tanda pertumbuhan kembali setelah terapi, tambahnya. Dengan hanya melepaskan obat antikanker pada lokasi tumor, efek samping kemoterapi yang tidak mengenakkan dapat juga dikurangi. ‘Dengan mengkombinasikan kedua teknik pembunuhan sel tersebut nanopartikel jauh lebih efektif pada pembunuhan sel kanker,’ kata Richard Tilley, seorang ahli dalam nanomaterial pada Victoria University of Wellington, New Zealand. ‘Multifunngsionalitasnya merupakan pendekatan yang sangat baru dan unik yang akan mengantarkan pada suatu cara yang paling cerdik untuk mengobati kanker ini,’ tambahnya. Nanopartikel tersebut dapat menyediakan suatu landasan medis yang menyeluruh, tambah Yeh dan mengatakan bahwa dia berharap yang dapat mengarahkan pada ‘operasi penyerbuan pada pasien yang akan dihindari pada masa mendatang.’ sumber : http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/aksi-ganda-terapi-kanker-2/

Cangkang Kepiting Untuk Membuat Elektroda Karbon

Cangkang kepiting memberikan suatu template yang murah dan nyaman guna membuat elektroda karbon yang berperforma tinggi dalam penyimpanan energi dan konversinya, kata para ilmuwan Cina.
Bahan karbon mempunyai potensi aplikasi yang sangat banyak, termasuk elektroda – elektroda pada superkapasitor dan sel – sel bahan bakar. Struktur porinya dikenal dapat mempengaruhi properti physicokimiawinya dan secara normal dikontrol dengan menggunakan suatu template yang keras dan berpori seperti zeolite atau silika. Namun proses ini biasanya melibatkan penggunaan asam hydrofluoric guna menghilangkan beberapa template-nya, yang mana dapat saja komplek dan mahal. Sebuah kelompok peneliti dari Fudan University, dipimpin oleh Yong-Yao Xia, telah mendemonstrasikan bahwa cangkang kepiting mempunyai struktur barisan berpori pada tingkat mikroskopisnya. Dengan menyelidiki struktur unik ini, mereka telah menghasilkan susunan nanofiber karbon berpori dengan mengkombinasikan template cangkang kepiting yang keras dengan metode pen-template-an yang dibuat lunak. ‘Beberapa template biologis pada umumnya sangat banyak, dapat diperbaharui, murah dan ramah lingkungan dibandingkan dengan template buatan,’ jelas Xia. Susunan nanofiber karbon berpori dapat dibuat dengan menggunakan cangkang kepiting sebagai template-nya Setelah pembakaran cangkang kepiting di udara, template berpori utamanya terdiri dari kalsium karbonat. Dengan menambahkan template copolymer yang lunak dan resol terdahulu membentuk kerangka karbonnya. Dengan pemanasan dibawah gas nitrogen menghilangkan template yang lunak dan template yang keras dapat dilarutkan pada asam hydrochloric. ‘Template cangkang kepiting yang keras tidak hanya mudah untuk dipindahkan tetapi berpori secara hirarkinya,’ kata Rui Zhang, seorang ahli pada bahan karbon berpori pada Shanghai Institute of Technology. Susunan karbon nanofiber yang ter-template menyimpan tingkat hirarki keporiannya, dengan membentuk pori – pori dengan tiga ukuran. Hasil terbesar dari pengemasan nanofiber tersebut, pori – pori medium dari ruang hampa diantara nanofiber dan naofiber karbon mereka berisi pori – pori yang paling kecil. Struktur porinya sangat sesuai untuk penyimpanan muatan oleh adsorpsi/desorpsi ion sebagai bahan elektroda bagi superkapasitor atau katalis platinum/palladium yang diisikan pada aplikasi sel bahan bakar, kata Xia. Dengan dibantu oleh area permukaan yang besar dan struktur kompleknya, bahan dari Xia menunjukkan hasil yang menakjubkan pada kedua kasus. Tim Xia sekarang ini menggunakan cangkang kepiting guna men-template-kan bahan berpori lainnya sama baiknya dengan menyelidiki template alternatif dari sisik ikan. Erica Wise sumber : http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/cangkang-kepiting-untuk-membuat-elektroda-karbon/

Solvents yang Dapat Diganti Bahan Kimiawi Ramah Lingkungan

Solvent yang dapat dibalik pergantiannya dari yang bersifat hidrophobic menjadi hidrophilic atau antara perbedaan yang besar pada kekuatan ionisnya hanya dengan menambahkan atau mengganti karbon dioksida telah dilaporkan oleh Philip G. Jessop dan rekan kerjanya dari Queen’s University, di Kingston, Ontario.
Perbedaan antara dua sifat solvent cukuplah besar dimana banyak persenyawaan dapat terlarut pada satu bentuk saja atau lainnya. Peningkatan solvent yang dapat diganti tersebut bagi pemrosesan kimiawi dapat mempermudah pada beberapa kasus untuk menggantikan solvent organis yang mudah menguap untuk menigkatkan kualitas udara dan menghilangkan kebutuhan penyulingan energi yang intensif. Jessop dan para koleganya membuat olvent yang dapat diganti pertama kali pada tahun 2005, dengan membuka suatu cara dalam pembentkan daftar CO2- solvents yang dapat diganti, surfactants, dan katalis. Pada salah satu studi baru, Jessop dan rekan kerjanya menjelaskan penggunaan CO2 dalam pergantian yang dapat dibalik pada solvent hidrophobic N,N,N’-tributylpentanamidine kedalam solvent hidrophilic (Green Chem., DOI: 10.1039/b926885e). Amidine tidaklah biasa untuk dapat dicampur dengan air dan membentuk sistem biphasic, jelas Jessop. Namun dibawah pengaruh CO2, solvent ini mengubah menjadi spesies bikarbonate yang sepenuhnya dapat dicampur dengan air. Nitrogen atau udara yang mengelembung melalui larutan atau pemanasan dengan sangat hati-hati menyaring CO2 keluar dari campuran dan membentuk kembali sistem biphasic. “Solvent hidrophilisitas yang dapat diganti ini ” sangat ideal dalam mengekstraksi persenyawaan organis dengan polaritas rendah, seperti minyak sayur, catat Jessop. Seperti contoh, timnya telah menggunakannya untuk memimikkan ekstraksi industrial minyak kacang kedelai dari jonjot kacang kedelai. Proses baru-baru ini meliputi pengekstraksian kacang kedelai dengan heksana, diikuti dengan memindahkan heksana melalui penyulingan guna menyisakan minyak yang murni. Solvent hidrophilisitas menjadikannya mungkin untuk mengekstraksi minyak dengan solvent amidine dan kemudian memisahkan minyak dan solvent-nya dengan menambahkan CO2 dan air. Saat minyaknya dipindahkan, solvent dipisahkan dari air dengan memindahkan CO2 dan lalu menggunakannya kembali—tidak perlu heksana dan penyulingan. GreenCentre Canada, suatu institut yang mengembangkan beberapa teknologi dari beberapa universitas di Kanada, sedang bekerja menskalakan proses modelnya, kata Jessop. Pada studi yang terpisah, Jessop dan lulusan mahasiswa yaitu Sean M. Mercer memikirkan cara untuk pergantian yang dapat dibalik antara air garam dan air tawar (ChemSusChem, DOI: 10.1002/cssc.201000001). “Penggaraman ” merupakan metode efektif dalam pemisahan air-persenyawaan organis yang terlarut dari air, namun hal ini membutuhkan penambahan sejumlah besar sodium klorida atau garam lain pada larutannya dan menghasilkan air garam yang berlebih bagi pembuangan. Jessop dan Mercer disamping menambahkan diamine netral pada air, membentuk suatu larutan aqueous dengan kekuatan ionisnya nol. Setelah CO2 dimasukkan, diamine berubah menjadi garam diammonium bikarbonate, secara signifikan menaikkan kekuatan ionis, kata Jessop. Untuk mengilustrasikan bagaimana sistem “air yang dapat diganti ” ini sangatlah berguna, para peneliti menambahkan tetrahydrofuran, yang dapt dilarutkan dengan larutan diamine yang tidak bergaram. Saat terekspose pada CO2, garam diammonium membentuk dan menekan tetrahydrofuran keluar dari larutan. Lapisan tetrahydrofuran dapat dipindah dan lapisan aqueous yang didaur ulang pada bentuk tidak bergaram dengan membersihkan CO2. “Gagasan mengenai penggaraman yang dpat dibalik sangatlah rapi—Saya belum pernah melihat sebelumnya,” kata insinyur kimiawi yaitu Eric J. Beckman dari University of Pittsburgh, seorang ahli dalam penggunaaan CO2 sebagai solvent dan bahan persediaan kimiawi. Sangatlah sulit sesuatu yang ramah lingklungan atau murah dari pada dengan menggunakan CO2 dan water, tambah Beckman. Sistem solvent model ini yang diciptakan oleh keolompok Jessop mempunyai potensi jika mereka dapat mengoptimalkan dan bekerja keras, kata Beckman. sumber : http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/solvents-yang-dapat-diganti-bahan-kimiawi-ramah-lingkungan/

Meminum Air Murni dari Pancaran Sinar Matahari dan Air Laut

Suatu alat yang dapat ‘mendorong’ garam keluar dari air laut telah dikembangkan oleh para peneliti Amerika Serikat. Yang cukup efisien dengan bertenaga sinar matahari, proses ini dapat mengarahkan pada skala kecil atau alat desalinasi portabel yang dapat menyediakan air minum yang vital pada daerah bencana atau daerah yang dilanda kekeringan parah.
Dengan menggunakan memberan semi-yang dapat menyerap modern guna mengubah air laut menjadi air tawar sangat populer sebagai suatu solusi pada kekurangan sumber air secara global. Dua teknik umum adalah osmosis terbalik, dimana air laut didorong melalui suatu saringan seperti memberan untuk menyaring keluar garamnya – dan elektrodialisis, yang menggunakan aliran listrik untuk mendorong keluar ion-ion garam melalui suatu memberan. Namun pada kedua kasus tersebut, bahan organis dan garam mengakumulasi beberapa memberan dan menyumbat sistemnya. Sekarang ini, suatu teknik alternatif telah dikembangkan, dimana dapat mengatasi permasalahan ini namun masih enrginya sangat efisien. ‘Kita mengunakan suatu fenomena yang disebut dengan konsentrasi polarisasi ion untuk “mendorong” garam keluar dari kandungan air laut,’ kata Jongyoon Han, yang memimpin penelitian pada Massachusetts Institute of Technology. ‘Ketika suatu voltase diterapkan sepanjang memberan kecil yang terbuat dari bahan ion selektif seperti Nafion, sesuatu yang tidak biasa akan terjadi. Pada salah satu sisi memberan, partikel-partikel yang bermuatan dikeluarkan – dan pada satu sisi yang lainnya, mereka dikumpulkan.’ Tim Han mengembangkan suatu alat berukuran microchip yang menyalurkan suatu arus air menuju bawah pada garpu dan membelah kedalam dua saluran. Pintu masuk pada salah satu salurannya dilapisi dengan memberan Nafion bermuatan, yang melindungi air yang mengalir kebawah dan mendorong garam kebawah pada saluran yang berbeda. Secara susah payah, pelindung ini juga mengeluarkan partikel bermuatan lainnya, keduanya bermuatan positif dan negatif, yang meliputi kebanyakan bahan organis dan mikroorganisme, seperti bakteri, virus dan zat pencemar lainnya. Namun untuk memfungsikan secara efektif, proses ini memerlukan saluran air yang kecil dan hal tersebut hanya dapat menghasilkan sejumlah kecil air pada diri mereka sendiri. ‘Arah kami di masa mendatang nantinya serupa dengan bagaimana industri semikonduktor membuat microchip ini,’ jelas Han. ‘Kita mengharapkan beratus-ratus saluran air pada chip tunggal – tujuannya adalah membaut system ini yang dapat menghasilkan sekitar satu liter air murni setiap sepuluh menit.’ Meskipun begitu Han mengakui hal ini secara relative sangatlah tidak memngkinkan, hal ini mungkin saja untuk menjalankan alat ini secara terus-menerus bagi penggunaan tenaga sinar matahari dengan waktu yang lama, yang akan sangat berharga sekali pada berbagai area kritis yang kekurangan air. Adel Sharif, seorang ahli pada penanganan air dan desalinasi pada University of Surrey, Inggris, tertarik dengan proses baru ini, namun berpikir bahwa pekerjaan yang lebih masih diperlukan. ‘Ada beberapa permasalahan yang harus diselesaikan,’ kata dia pada Chemistry World. ‘Elektroda emasa dan titanium akhir-akhir ini digunakan, jadi penemuan yang sangat murah atau bahan alternatif diperlukan untuk menskalakan teknologi ini kedalam suatu alat. Serta, beberapa partikl yang tidak bermuatan mungkin saja menyebabkan kekacauan pada memberan – jadi suatu sistem para-perlakuan mungkin saja diperlukan terlebih dulu.’ Lewis Brindley Referensi : S J Kim et al, Nature Nanotechnology, DOI: 10.1038/NNANO.2010.34 sumber : http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/meminum-air-murni-dari-pancaran-sinar-matahari-dan-air-laut/

Batuan Greenland dan Asal Usul Kehidupan

Bumi berusia 4,5 miliar tahun. Ini fakta yang cukup handal. Usia dari banyak batuan purba juga handal, dan mereka berusia sangat tua: ada batuan di Greenland yang berusia 3,8 miliar tahun. Tanda pertama kehidupan dalam batuan purba tidak dapat dengan mudah diketahui apalagi ditentukan usianya, namun ada bukti yang baik sekarang kalau sejenis mikroba telah ada setidaknya 2,8 miliar tahun lalu. Ini perkiraan yang sangat hati-hati; sebagian besar pakar akan mengatakan kalau sekarang telah ada bukti kalau ada kehidupan di Bumi 3,5 miliar tahun lalu. Beberapa diantaranya bahkan menarik waktunya lebih jauh hingga 3,8 miliar tahun.
Bukti paling langsung ada dua. Pertama ada struktur berskala besar yang tidak biasa dalam banyak batuan purba, termasuk batuan Australia kuno berusia 3,5 miliar tahun, yang mirip dengan struktur stromatolit yang di masa sekarang diproduksi oleh koloni mikroba dalam jumlah besar. Dan kedua, ada benda-benda yang ditemukan di batuan purba yang tampaknya merupakan fosil dari mikroba itu sendiri. Bergerak ke ujung lain jangkauan waktu asal usul kehidupan di Bumi, waktu tertua yang mungkin dipastikan oleh usia Bumi itu sendiri, namun ada bukti dari Bulan dan banyak planet lain kalau Bumi di bombardir oleh meteorit-meteorit sangat besar hingga sekitar 4,0 miliar tahun lalu. Jadi ujung jauh dari jangkauan asal usul kehidupan mungkin lebih dekat ke 4,0 ketimbang 4,5 miliar tahun lalu. Di sisi lain, atau sisi pesimis, waktu asal usul kehidupan termuda adalah 2,8 miliar tahun dan ujung dekat ini tampaknya akan semakin terdorong jauh berkat penemuan-penemuan baru. Jadi, mungkin gapnya akan menyempit. Namun untuk sementara kita dapat tenang dengan jangkauan waktu 4,5 (atau kurang) hingga 2,8 (atau lebih) miliar tahun lalu untuk asal usul kehidupan di Bumi. Untuk kondisi Bumi ketika kehidupan bermula, bukti terbaik yang kita miliki adalah yang datang dari batuan Greenland tadi, 3,8 miliar tahun lalu. Waktu tersebut berada dalam jangkauan asal usul kehidupan kita. Batuan itu sendiri berbicara kalau Bumi tidak terlalu berbeda dari sekarang. Batuan ini dulunya adalah endapan: mereka terbaring di dasar perairan yang luas. Dan mungkin ada daratan juga, untuk menyediakan bahan untuk diendapkan. Batuan Greenland mengandung karbonat – jadi mungkin ada karbon dioksida di atmosfer – dan juga terdapat endapan-endapan mengandung besi yang paling mungkin, hanya dapat terbentuk ketika tidak ada ataupun hanya ada sedikit oksigen di atmosfer. Dan umumnya diduga kalau juga ada nitrogen di atmosfer purba untuk menjadi penyusun utamanya seperti sekarang. Pendapat lain mengatakan kalau atmosfer purba Bumi mirip dengan Yupiter. Namun pendapat kalau atmosfer purba kita berat, penuh metana, amonia, dan segala kawanannya ini tidak didukung oleh bukti dari batuan purba; dan sedikit pula antusiasme atas gagasan ini sekarang, baik diantara para geolog, geokimiawan, ataupun astronom planet. Sumber : Cairns-Smith, A.G. 2000. Seven Clues to the Origin of Life. Cambridge University Press. sumber : http://www.faktailmiah.com/2011/08/03/batuan-greenland-dan-asal-usul-kehidupan.html

Api Abadi : Bahaya Kebakaran Bawah Tanah Alami dan Buatan

Di banyak tempat di dunia, api telah menyala dalam endapan batu bara bawah tanah dan bahan batuan mudah terbakar lainnya selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Api dalam endapan batu bara bawah tanah dinyalakan oleh petir, api permukaan, dan pembakaran spontan selama jutaan tahun. Api ini memakan bahan permukaan di atasnya, mengubahnya menjadi bahan rapuh tandus bernama clinker. Baru-baru saja, insiden api telah meningkat dramatis karena operasi pertambangan dan aktivitas manusia lainnya.
Ribuan kebakaran bawah tanah saat ini membakar planet kita, dengan sebagian besar ada di Asia, dimana diperkirakan sekitar 20 persen produksi batu bara tahunan China terbakar dalam kebakaran bawah tanah. Kebakaran bawah tanah memberikan sejumlah bahaya. Pertama, mereka melepaskan gas beracun lewat retakan, patahan, dan bukaan lainnya ke permukaan. Uap ini membunuh tanaman dan mencemari udara dan memberi sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer, karenanya menyumbang pada pemanasan global. Diperkirakan kalau jutaan ton karbon dioksida saja ditambahkan ke atmosfer per tahun oleh pembakaran batu bara bawah tanah. Volume karbon dioksida yang diproduksi per tahun oleh kebakaran batu bara bawah tanah di China diperkirakan sama dengan yang diproduksi oleh semua mobil dan truk kecil di Amerika Serikat. Ketika kebakaran bawah tanah membakar sebuah wilayah, cadangan batu bara hilang dan menyisakan atap yang tidak ditopang dari cadangan sebelumnya. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan, dan atap ini dapat rubuh ke ruang yang sebelumnya didiami batu bara. Keruntuhan tersebut sering meluas ke permukaan, dimana lubang hisap dan struktur runtuh lainnya dapat menelan lahan yang sebelumnya produktif. Dalam kasus dimana kebakaran terjadi dekat permukaan, subsidensi dapat terjadi ketika kebakaran, mengubah lahan menjadi seperti permukaan bulan yang penuh kawah dan clinker. Kebakaran bawah tanah dapat terjadi lewat beberapa cara. Pertama, bila sebuah batuan mudah terbakar seperti batu bara terpapar permukaan, ia dapat dibakar oleh api atau petir di permukaan. Ketika terbakar, ia dapat menyebar ke bawah tanah dan terbakar selama puluhan, ratusan, atau ribuan tahun hingga seluruh bahan bakar habis. Satu kebakaran batu bara bawah tanah di Australia, yang disebut Burning Mountain, telah terbakar setidaknya sejak dua ribu tahun lalu. Kebakaran juga dapat terjadi secara spontan. Mineral dalam batu bara seperti pyrite melepaskan sejumlah kecil panas ketika terpapar ke oksigen. Bila batu bara berada dalam wilayah tertutup, seperti sebuah tambang atau rongga alami, maka panas dapat pula tertumpuk dan akhirnya membakar batu bara. Batu bara dan gambut bawah tanah juga dapat terbakar akibat kebakaran hutan dan sambaran petir, seperti yang membakar wilayah hutan di Indonesia tahun 1997, setelah bertahun-tahun kekeringan. Asap dari kebakaran hutan dan kebakaran bawah tanah di Indonesia tertiup melintasi samudera menuju Australia dan kepulauan Pasifik. Kebakaran bawah tanah yang dipicu oleh kebakaran permukaan di Indonesia terus terbakar hingga hari ini. Manusia juga menjadi penyebab kebakaran bawah tanah lainnya. Sebagai contoh, kebakaran bawah tanah di tumpukan batu bara di Centralia, Pennsylvania, telah terbakar semenjak 1961 dan menghancurkan sebagian besar kota dalam jalur kebakaran. Kebakaran dipicu oleh sampah yang dibuang ke bekas pertambangan yang terbakar dan menyalakan tumpukan batu bara yang terpapar ke dinding tambang. Kebakaran menyebar lewat terowongan-terowongan yang ada yang memberi campuran sempurna antara bahan bakar, udara, dan panas. Ketika api bergerak menelusuri terowongan dan keluar sepanjang tumpukan batu bara, lahan di atasnya ikut terbakar dan berubah menjadi clinker. Pemerintah AS harus membeli lahan dan memindahkan seluruh warga Centralia, dengan biaya sekitar $40 juta. Sangat sulit memadamkan api bawah tanah. Beberapa metode telah dicoba dengan kesuksesan yang terbatas. Pertama, penghalang dapat dibuat di terowongan untuk memblokir gerakan api, namun dalam banyak kasus api dapat membakar daerah sekitar penghalang. Terowongan dapat diisi dengan bahan padat atau busa, namun bila kebakaran telah berpindah dari terowongan ke tumpukan batu bara, hal ini juga tidak efektif. Gas yang tidak dapat terbakar juga dapat dipompakan ke dalam gua atau tambang untuk mencekik kebakaran dengan menghabiskan bahan bakarnya. Hal ini juga sulit, karena banyak tambang sangat berpori, dan gas tidak terbakar dapat kabur ke luar sementara oksigen dapat bergerak masuk. Dalam beberapa contoh, daerah permukaan pada kebakaran bawah tanah dibendung atau dibanjirkan, menyebabkan air meresap ke bawah tanah dan memadamkan api. Walau begitu, dalam sebagian besar kasus, kebakaran bawah tanah terus terjadi, dan penduduk sekitar harus beradaptasi dengan situasi yang ada. Banyak tumpukan batu bara di China dan India secara aktif ditambang saat ia terbakar, dan masyarakat sekitar bernafas dengan uap beracun. Hidup di dekat kebakaran batu bara bawah tanah sangatlah berbahaya, seperti yang ditunjukkan oleh tambang Jharia di India, yang telah terbakar semenjak 1916. Kebakaran jangka panjang ini menyebabkan dinding tambang runtuh tahun 1995 dan melepaskan air permukaan ke dalam tambang. Serangan mendadak air menyebabkan ledakan uap, yang membunuh 60 penambang. Sungguhpun demikian, bencana ini tidak mencegah operasi lebih lanjut di tambang ini. Populasi di sekitar tambang telah berlipat dua dalam 20 tahun terakhir, memberi resiko yang lebih besar lagi. Sumber : Kusky, T. 2008. Landslides: Mass Wasting, Soil, and Mineral Hazards. Facts on File. sumber : http://www.faktailmiah.com/2011/07/13/api-abadi-bahaya-kebakaran-bawah-tanah-alami-dan-buatan.html

Penaklukkan Api

Salah satu adaptasi tertua dan paling penting manusia adalah api. Api memberkan kehangatan dalam cuaca dingin dan keamanan dari predator malam. Api memperpanjang siang hari, memberikan lebih banyak waktu untuk membuat alat dan berkomunikasi. Ia dapat digunakan untuk mengeringkan kulit dan daging, memperkeras tombak kayu, menghangatkan daging beku, dan memasak makanan untuk melembutkannya atau membuang racun. Kapan dan bagaimana manusia purba memperoleh api? Letusan gunung berapi dan sambaran petir merupakan sumber alami. Walau begitu, merawat api adalah aktivitas yang lebih rumit. Bagaimana manusia purba mempertahankan api mereka? Apakah mereka membawa api dari satu tempat ke tempat lain? Bila ya, bagaimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab oleh para ilmuan.
Kapan manusia purba pertama kali belajar mengendalikan api? Di Swartkrans, Afrika Selatan, para ilmuan menemukan tulang belulang hewan yang dibakar berusia 1,5 juta tahun. Bukti yang lebih konkrit datang dari situs Homo erectus di Zhoukoudian, China, berusia antara 460 ribu hingga 230 ribu tahun lalu. Para peneliti menemukan tulang belulang hewan yang dibakar, biji yang ditanak, dan alat-alat batu. Tungku tertua, dari sekitar 465 ribu tahun lalu, ditemukan di Menez-Dregan, Perancis. Disini manusia purba berulang kali menggunakan sebuah kawah arang yang dikelilingi batu. Pada 100 ribu tahun lalu, tungku merupakan hal yang umum. Situs berusia 40 ribu tahun di Abri Pataud, Perancis, mengandung batuan yang dihangatkan dan saluran pembuangan untuk udara dan asap; manajemen api yang baik penting saat itu maupun sekarang. Sumber : Donald Johanson. Becoming Human. sumber : http://www.faktailmiah.com/2011/08/13/penaklukkan-api.html

Menyaksikan Gerakan Elektron dalam Molekul Selama Reaksi Kimia

Dalam percobaan, Wörner dan rekan-rekannya mengukur cahaya elektron sehingga dapat menyimpulkan informasi rinci tentang distribusi elektron dan evolusinya seiring waktu. Sebuah kelompok riset yang dipimpin ETH Zurich, untuk pertama kalinya, berhasil memvisualisasikan gerakan elektron selama reaksi kimia. Temuan baru dalam percobaan yang sangat penting dan fundamental bagi fotokimia ini juga bisa membantu dalam desain sel surya menjadi lebih efisien. Pada tahun 1999, Ahmed Zewail dianugerahi nobel dalam bidang kimia untuk studi reaksi kimia dengan menggunakan pulsa laser ultra-singkat. Zewail bisa menyaksikan gerakan atom, dan dengan demikian bisa memvisualisasikan keadaan transisi pada tingkat molekuler. Mampu menyaksikan dinamika elektron tunggal masih dianggap mimpi pada masa itu. Berkat perkembangan terbaru dalam teknologi laser dan penelitian dalam bidang spektroskopi attosecond (1 attosecond = 10?18 detik) penelitian ini telah berkembang pesat. Untuk pertama kalinya, Prof. Hans Jakob Wörner dari Laboratorium Kimia Fisik di ETH Zurich, bersama rekan-rekan dari Kanada dan Perancis, mampu merekam gerakan elektronik selama reaksi kimia. Percobaan ini dideskripsikan dalam edisi terbaru Science. Tim peneliti menyinari molekul nitrogen dioksida (NO2) dengan pulsa ultraviolet yang sangat singkat. Selanjutnya, molekul mengambil energi dari pulsa yang mengatur elektron dalam gerakan. Elektron-elektron itu mulai menata ulang diri mereka sendiri, yang menyebabkan awan elektron berosilasi di antara dua bentuk yang berbeda dalam waktu yang sangat singkat, sebelum molekul mulai bergetar dan akhirnya terurai menjadi oksida nitrat dan sebuah atom oksigen.
Titik Potong Kerucut Nitrogen dioksida memiliki karakter model yang berkenaan dengan pemahaman gerakan elektronik. Dalam molekul NO2, dua keadaan elektron dapat memiliki energi yang sama untuk sebuah geometri tertentu – umumnya digambarkan sebagai titik potong kerucut. Titik potong kerucut sangat penting bagi fotokimia dan sering terjadi dalam proses kimia alami yang disebabkan oleh cahaya. Titik potong kerucut bekerja seperti saklar tukik. Misalnya, jika retina mata manusia disinari cahaya, elektron mulai bergerak, dan molekul retina mengubah bentuknya, yang akhirnya mengubah informasi cahaya menjadi informasi listrik bagi otak manusia. Aspek khusus tentang titik potong kerucut adalah bahwa gerakan elektron ditransfer menjadi gerakan atom yang sangat efisien. Memotret elektron Dalam artikel sebelumnya, Hans Jakob Wörner telah mempublikasikan bagaimana spektroskopi attosecond dapat digunakan untuk menyaksikan gerakan elektron. Pulsa ultraviolet lemah pertama mengatur elektron agar bergerak. Pulsa inframerah kuat kedua kemudian menghilangkan elektron dari molekul, mempercepat dan mendorongnya kembali ke molekul. Akibatnya, sebuah pulsa cahaya attosecond terpancarkan, membawa sebuah potret distribusi elektron dalam molekul. Wörner mengilustrasikan prinsip spektroskopi attosecond sebagai berikut: “Percobaan ini dapat dibandingkan dengan foto-foto, misalnya, gambar peluru yang ditembakkan melalui apel. Peluru itu akan terlalu cepat bagi penutup kamera, sehingga menghasilkan gambar yang buram. Dengan demikian, penutupnya dibiarkan terbuka dan gambar diterangi dengan cahaya berkedip, yang lebih cepat daripada peluru. Begitulah cara kami memperoleh potret tersebut.” Dari percobaan hingga ke sel surya Ketika elektron kembali ke molekul, ia melepaskan energi dalam bentuk cahaya. Dalam percobaan, Wörner dan rekan-rekannya mengukur cahaya elektron sehingga dapat menyimpulkan informasi rinci tentang distribusi elektron dan evolusinya seiring waktu. Informasi ini mengungkap rincian mekanisme reaksi kimia yang tidak bisa diakses pada sebagian besar teknik-teknik eksperimental sebelumnya. Percobaan pada NO2 membantu memahami proses-proses fundamental dalam molekul dan merupakan ekstensi ideal bagi simulasi komputer untuk proses fotokimia: “Apa yang membuat percobaan kami begitu penting adalah, hal ini memverifikasi model teoritis,” kata Wörner. Kepentingan besar dalam proses fotokimia tidaklah mengejutkan, sebagaimana area penelitian ini bertujuan untuk pengembangan sel surya dan membuat fotosintesis buatan menjadi hal yang mungkin. Kredit: ETH Zürich Jurnal: H. J. Worner, J. B. Bertrand, B. Fabre, J. Higuet, H. Ruf, A. Dubrouil, S. Patchkovskii, M. Spanner, Y. Mairesse, V. Blanchet, E. Mevel, E. Constant, P. B. Corkum, D. M. Villeneuve. Conical Intersection Dynamics in NO2 Probed by Homodyne High-Harmonic Spectroscopy. Science, 2011; 334 (6053): 208 DOI: 10.1126/science.1208664 sumber : http://www.faktailmiah.com/2011/10/17/menyaksikan-gerakan-elektron-dalam-molekul-selama-reaksi-kimia.html

Pendekatan ‘Diagonal’ untuk Mendaur Ulang Karbon Dioksida

Karbon dioksida merupakan hasil dari produksi energi, namun haruskah selalu dianggap sebagai produk limbah? Gas ini bisa menjadi sumber daya terbarukan yang berguna dan menjadi agen kimiawi yang ramah lingkungan. Jika kita benar-benar bisa menggunakannya, ini tidak saja akan mengurangi emisi karbon dioksida ke atmosfer, tapi juga mengurangi ketergantungan kita pada petrokimia, yang pada akhirnya akan mulai habis. Dalam jurnal Angewandte Chemie, para ilmuwan Perancis yang bekerja dengan Thibault CANTAT dari Institut Rayonnement Matière de Saclay, Gif-sur-Yvette, kini telah memperkenalkan pendekatan baru untuk konversi karbon dioksida menjadi blok bangunan yang bisa digunakan untuk sintesis kimia sekaligus menjadi bahan bakar baru. “Karbon dioksida adalah blok bangunan berlimpah C1 yang tidak beracun,” kata CANTAT. “Hanya sedikit proses yang menggunakan bahan awal ini untuk dikembangkan, karena karbon dioksida merupakan molekul sangat stabil yang tidak dapat dengan mudah dibuat untuk bereaksi.” Untuk saat ini, ada dua pendekatan yang berbeda dalam penggunaan karbon dioksida. Menurut CANTAT, “Dalam pendekatan ‘vertikal’, karbon dioksida dikurangi, yang artinya keadaan oksidasi atom karbon dikurangi dengan penggantian formal oksigen dengan hidrogen. Hal ini menyebabkan molekul menjadi seperti metanol atau asam formiat, yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar. “Produk ini memiliki kandungan energi yang lebih tinggi daripada karbon dioksida, namun hanya sedikit bahan kimia yang dapat diproduksi dengan cara ini. “Dalam pendekatan ‘horisontal’, atom karbon difungsikan, yang artinya atom ini membentuk ikatan baru pada oksigen, nitrogen, atau atom karbon lainnya,” lanjut CANTAT. “Keadaan oksidasinya tetap sama, kandungan energinya tidak meningkat.” Ini tidak menghasilkan bahan bakar, namun bahan kimianya merupakan blok bangunan yang berguna untuk sintesis kimia, seperti urea. Tim riset Perancis dengan demikian mencoba pendekatan kompromi, kombinasi kedua metode tersebut untuk membuat pendekatan “diagonal”. Dengan metode ini, karbon dioksida dikurangi sekaligus difungsikan dalam satu langkah. Hal ini memungkinkan sintesis sejumlah bahan kimia yang jauh lebih besar, langsung dari CO2. Reaksi ini membutuhkan tiga hal: sebuah agen pereduksian (misalnya silan), suatu molekul organik yang menjadi terikat pada atom karbon dari karbon dioksida (misalnya amina), dan katalis khusus yang mengkatalisis baik pengurangan maupun fungsionalisasian. Katalis yang sukses adalah basa organik khusus yang terdiri dari sistem cincin yang mengandung nitrogen. “Variasi mitra reaksinya harus memungkinkan kita membuat seluruh rangkaian senyawa kimia yang biasanya diperoleh dari bahan baku petrokimia,” kata CANTAT, “misalnya, formamida derivatif, yang merupakan intermediasi penting bagi industri farmasi dan kimia.” Kredit: Wiley Jurnal: Christophe Das Neves Gomes, Dr. Olivier Jacquet, Dr. Claude Villiers, Dr. Pierre Thuéry, Dr. Michel Ephritikhine, Dr. Thibault Cantat. A Diagonal Approach to Chemical Recycling of Carbon Dioxide: Organocatalytic Transformation for the Reductive Functionalization of CO2. Angewandte Chemie, 2011. DOI: 10.1002/anie.201105516 sumber : http://www.faktailmiah.com/2011/11/09/pendekatan-diagonal-untuk-mendaur-ulang-karbon-dioksida.html

Optimasi Nanopartikel untuk Aplikasi Komersial

Nanopartikel saat ini banyak digunakan pada beragam produk komersial mulai dari katalis, media cat dan cairan magnetik, hingga kosmetik dan tabir surya. Suatu review terbaru dari peneliti di Swedia dan Spanyol mendeskripsikan hasil kerja terkini untuk optimasi sintesis, dispersi, dan fungsionalisasi permukaan titania (titanium dioksida), seng oksida, dan seria (serium oksida) — tiga nanopartikel utama yang digunakan pada fotokatalis, penghalau sinar UV (ultraviolet), dan tabir surya. Review mereka dipublikasikan pada 26 April 2013 di jurnal Science and Technology of Advanced Materials.
Dengan keberhasilan aplikasi komersial nanopartikel titania untuk kaca swabersih pada jendela di gedung-gedung bertingkat tinggi, kini ketertarikan untuk mengaplikasikan sistem fotokatalisis dan pelapis titania swabersih pada beragam material konstruksi semakin meningkat. Pelapisan ini tidak hanya melindungi permukaan gedung untuk tetap bersih tetapi juga dapat mengurangi konsentrasi polutan berbahaya di udara. Sifat anti-bakteri dari pelapis fotokatalis juga menjadi solusi untuk mengendalikan bakteria berbahaya yang persisten, yang merupakan karakter yang sangat berguna terutama bila digunakan di rumah sakit. Sementara itu, pelapis yang memiliki karakter menyerap atau menangkal sinar UV saat ini memiliki dua pemanfaatan utama: sebagai pernis pelindung pada permukaan kayu, dan sebagai pelapis penghalang sinar UV pada permukaan produk maupun peralatan berbasis polimer untuk mencegah pelapukan. Studi review tersebut menjelaskan secara struktural dan kimiawi apa saja yang diperlukan dan beragam rute yang dapat digunakan untuk memproduksi fotokatalis transparan serta pelapis dan tabir surya penghalau sinar UV berbasis nanopartikel. Penulis artikel tersebut mengulas metode utama untuk sintesis nanopartikel titania, seng oksida, dan seria, dengan berfokus pada riset terkini mengenai pembuatan serbuk nanopartikel yang tidak teraglomerasi (tidak menggumpal). Penulis juga mengidentifikasi senyawa aditif organik yang merupakan dispersan yang efektif dan mampu meningkatkan kecocokan antara nanopartikel anorganik dengan matriks organik. Selanjutnya artikel ini mendiskusikan lebih jauh mengenai performa teknis dari nanopartikel, terutama kaitannya dengan keberadaannya di lingkungan. Mereka menyimpulkannya dengan menjelaskan prospek masa depan dari nanopartikel dan mengidentifikasi material terbaru yang menjanjikan, seperti pelapis yang multifungsi dan lembaran film hibrid. sumber : http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/optimasi-nanopartikel-untuk-aplikasi-komersial/

Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer

Kelebihan karbon dioksida di atmosfer bumi yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil secara meluas merupakan pendorong utama terjadinya perubahan iklim global, dan di balik masalah besar ini, para peneliti di seluruh dunia tengah berupaya mencari cara-cara baru untuk menjadikannya sebagai sumber tenaga yang berguna. Kini, para Peneliti dari University of Georgia telah berhasil menemukan cara untuk mengubah karbon dioksida yang terperangkap dalam atmosfer menjadi produk industri yang berguna. Temuan mereka segera dapat mengarah pada penciptaan biofuel yang dibuat langsung dari karbon dioksida di udara, yang selama ini bertanggung jawab atas meningkatnya suhu global. “Pada dasarnya, apa yang kami lakukan adalah membuat mikroorganisme yang menyerap karbon dioksida seperti apa yang dilakukan tanaman, sehingga menghasilkan sesuatu yang berguna,” jelas Michael Adams, anggota Institut Riset Bioenergi, profesor bioteknologi Georgia Power serta profesor biokimia dan biologi molekuler Distinguished Research di Franklin College of Arts and Sciences. Selama proses fotosintesis, tanaman menggunakan sinar matahari untuk mengubah udara dan karbon dioksida menjadi gula. Seperti halnya manusia yang membakar kalori dari makanan, tanaman menggunakan gula ini sebagai sumber energinya Gula ini dapat difermentasi menjadi bahan bakar seperti etanol. Namun, sangat sulit untuk secara efisien mengekstrak gula yang terkurung dalam dinding sel tanaman yang kompleks.
“Apa yang menjadi inti dari temuan ini adalah, kita dapat menggantikan tanaman yang selama ini berlaku sebagai perantara,” ungkap Adams, “Kita bisa mengambil karbon dioksida secara langsung dari atmosfer dan mengubahnya menjadi produk-produk yang berguna seperti bahan bakar dan bahan kimia, tanpa harus melalui proses yang tidak efisien, yaitu pertumbuhan tanaman dan pengekstrakan dari biomassa.” Proses ini dimungkinkan oleh mikroorganisme unik yang disebut Pyrococcus furiosus, yang justru bertumbuh subur dengan mencari makanan dalam karbohidrat di perairan laut super-panas dekat ventilasi panas bumi. Dengan memanipulasi materi genetik organisme ini, Adams beserta rekan-rekannya menciptakan jenis P. furiosus yang mampu mencari makan pada temperatur yang lebih rendah dalam karbon dioksida. Tim peneliti kemudian menggunakan gas hidrogen untuk menciptakan reaksi kimia pada mikroorganisme, suatu reaksi yang menggabungkan karbon dioksida ke dalam 3-hydroxypropionic acid, jenis bahan kimia industri yang umumnya digunakan untuk membuat akrilik dan berbagai produk lainnya. Dengan berbagai manipulasi genetik lain dari strain baru P. furiosus, para peneliti mampu membuat suatu versi yang menghasilkan sejumlah produk industri berguna lainnya, termasuk bahan bakar, dari karbon dioksida. Saat dibakar, bahan bakar yang tercipta melalui proses P. furiosus ini melepaskan karbon dioksida dalam jumlah yang sama dengan karbon dioksida yang digunakan untuk menciptakannya, secara efektif menjadikannya karbon netral, dan menjadi bahan bakar alternatif yang jauh lebih bersih sebagai pengganti bensin, batubara dan minyak. “Ini merupakan langkah penting pertama yang memberi janji besar sebagai metode produksi bahan bakar yang efisien dan hemat biaya,” kata Adams, “Di masa mendatang kami akan memperbaiki prosesnya dan mulai menguji pada skala yang lebih besar.” Kredit: University of Georgia Jurnal: Matthew W. Keller, Gerrit J. Schut, Gina L. Lipscomb, Angeli L. Menon, Ifeyinwa J. Iwuchukwu, Therese T. Leuko, Michael P. Thorgersen, William J. Nixon, Aaron S. Hawkins, Robert M. Kelly, Michael W. W. Adams. Exploiting microbial hyperthermophilicity to produce an industrial chemical, using hydrogen and carbon dioxide. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2013 DOI: 10.1073/pnas.1222607110 sumber : http://www.faktailmiah.com/2013/03/27/ilmuwan-temukan-kemungkinan-untuk-menciptakan-bahan-bakar-dari-karbon-dioksida-di-atmosfer.html

Game Angry Bird Star Wars II Android

Angry Birds Star Wars II merupakan games yang cukup layak dimainkan. Apalagi untuk para fans setia Angry Birds. Pilihan karakter yang lebih banyak, fitur telepods, pilihan memainkan para babi serta jumlah level yang semakin banyak untuk ditaklukan merupakan kelebihan tersendiri dari games ini. Kekurangan games ini mungkin hanya satu yaitu gamesplay yang sama. Apalagi bagi mereka yang mudah bosan akan menganggap gameplay Angry Birds tidak kreatif. Namun terlepas dari itu, games ini layak dimainkan. Games ini tersedia untuk perangkat mobile dan tablet. Untuk mendownload silahkan klik link downloadnya. klik untuk mendownload

Game Beat The Boss 3 Android

Mimpi Anda menjadi kenyataan. Semua hidup Anda, Anda ingin mengalahkan bos Anda, dan sekarang Anda akhirnya bisa. Dengan 50 juta pendownload sampai saat ini, bukan rahasia bahwa ini akan menghilangkan stres semua orang. Atasan Anda tahu bahwa Anda sedang bermain game ini, dan tidak ada yang dia bisa lakukan tentang hal itu. → Sesuaikan bos Anda: Kejahatan datang dalam berbagai bentuk. Anda dapat membuatnya sendiri! → Sesuaikan senjata Anda: Kamuflase atau granat? Terserah Anda. → Senjata Premium: 100 + semua senjata mematikan yang baru untuk membuat atasan Anda kapok. → Simulasi Fisik: Dapatkan reaksi memuaskan untuk semua pemukulanmu → Tur Dunia klik untuk mendownload

Game Dust Gold Android

klik untuk mendownload

Game Farming Simulator 14 Android

klik untuk mendownload

Game Highway Rider Android

klik untuk mendownload

Game Zombie SAS Android

klik untuk mendownload

Game Where Is My Water 2 Android

klik untuk mendownload

Game Pou Android

Pou adalah sebuah permainan yang cukup populer pada saat ini. Aktor dari permainan pou adalah sebuah alien yang berbentuk seperti onigiri, makanan khas jepang. Ingatkah kalian dengan permainan tamagochi? Permainan yang dimainkan seperti halnya kita melakukan simulasi merawat hewan peliharaan, dengan memberinya makan, istirahat, vitamin/obat, dan lain sebagainya. Cara bermain pou hampir mirip dengan tamagochi, hanya saja pou lebih fleksibel untuk dimainkan di perangkat mobile kita. Tidak semua jenis mobile dapat diinstall permainan pou ini, hanya khusus untuk Android/Iphone. Untuk mendownload game ini silahkan klik link downloadnya. klik untuk mendownload

Chemical Engineering, Coulson and Richardson's

Chemical Process Equipment (S.M. Walas)

Chemical Reaction Engineering [Oktave Levenspiel]

Chemical and Environmental Engineering Calculations [ Reynold, Jeris ]